Salah Siapa?

– Sebenarnya: “Aceh memiliki kearifan lokal yang sangat kuat dalam menjaga dan melestarikan hutan juga satwa” berawal dari budaya dan Islam yang kuat pada masyarakat Aceh dalam menjalankan kearifan lokal secara turun temurun.

– Hukum Adat di Aceh juga sangat kuat dalam menjaga hutannya, masuk hutan saja harus dengan ketentuan yang berdasarkan kearifan lokal. Hukum Syariah, Aceh seharusnya menjadi pedoman untuk daerah lain dalam menjaga dan melestarikan hutan dan satwa.

– Pantang sebenarnya bagi masyarakat Aceh untuk memotong pohon di hutan rimba terkecuali kebutuhan dan membawa pawang untuk berhikayat/ doa doa tertentu yang dibacakan sebelum menebang kayu/pohon terpilih. Kayu yang dipotong juga harus pada masanya, tidak boleh memotong kayu(pohon) yang kecil. Radius 500 meter dari sungai/danau, dilarang menebang pohon. kearifan lokal yang saat ini hilang perlahan di Aceh!.

– Masuk ke dalam hutan juga tidak boleh sembarangan hari, karena ada hari-hari tertentu tdk diperbolehkan. misal rabu habis & waktu jumat dan hari hari besar Agama lainnya. Kemudian batasan bagi wanita untuk masuk hutan di Aceh adalah tidak boleh disaat berhalangan/haid/menstruasi.

– Soal lintasan jalur hewan misalkan (Gajah) tidak boleh mendirikan gubuk/membuka lahan kebun. pantang jika melanggar kearifan lokal. Jika kearifan dilanggar, maka akan mendapat musibah. -Tidak salah lagi konflik satwa dan manusia sudah sering terjadi akibat melanggar.

– Saat ini berbanding terbalik dari pemahaman kearifan lokal yang ada, semua seperti masa lalu. hutan Aceh hancur, satwa dibunuh! Dulu orang Aceh menjaga hutan agar ketika musuh datang bisa menang jika berperang didalam hutan. banyak makanan dan obat2an. Sekarang hutan di tebang dan memberikan perusahaan luar untuk menghabiskan sumber daya alam yang ada hanya untuk kepentingan sekelompok! Lahan yang harusnya menjadi kawasan dilindungi kini habis karena nafsu membuka perkebunan perusahaan besar. kebun SAWIT salah satunya! Perusahaan tambang, perusahaan yang memberi modal ke perorangan untuk membuka tambang tradisional kecil dan berbahaya mencemari. Mafia mafia brengsek yang seperti hantu menjadi penadah Gading Gajah yang dibunuh dan Kulit harimau yang ditembak mati! – Biadab!

– Dulu sekali Sultan Iskandar Muda bisa hidup berdampingan dengan Gajah, menjadikan Gajah sebagai kendaraan perang di Aceh. Disaat itu pula Aceh menjadi penyuplai 50% terbesar dalam rempah-rempah (Lada misalkan). tidak ada masalah dengan Gajah yg tersebar.

– Sebutan Gajah Aceh ” Poe Meurah, Teungku rayeuk” sebutan mulia bagi hewan mamalia terbesar itu. sangat di hormati meski tidak dipuja. Sementara bagi Harimau dianggap sebagai “Aulia” yang berarti mahluk penjaga di dalam hutan, penunjuk jalan saat di peurabon (tersesat). Anggapan tadi adalah cerita dari kearifan lokal di Aceh, sekarang? Kaerifan lokal bisa di hapus dan bayar dengan uang.

– Tidak ada lagi jaga menjaga antara hewan dan manusia/ manusia dan hewan. Gajah menginjak mati atau manusia menembak mati gajah! Tahun 2014 adalah bencana bagi kepunahan Gajah di Aceh, lebih ganas dari pada tahun 2013 -Perburuan gading Gajah! Siapa yang akan kita salahkan untuk kasus perburuan gading Gajah atau Kulit harimau Aceh? Pemburu? Pemerintah korup? atau mafia yang seperti hantu?.

– “Janganlah kamu berbuat kekacauan di bumi”. Mereka berkata, “sesungguhnya kami hanya orang-orang yang mengadakan perbaikan”. (11) – Ingatlah, sesungguhnya mereka itu pembuat kekacauan tetapi mereka tidak menyadari. (12) –

Al-Quran, Surah Al-Baqarah Ayat 11-12.

(Fin) Semua kembali pada masanya, Allah SWT mengatur lalu Alam akan menyeimbangkan kembali lingkungannya. Amin. Al-Fatihah.. doa hutan Aceh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s