Aku, di Balik Secangkir Kopi.

indiegem

Bermula saat aku masih takut akan efek yang di timbulkan oleh secangkir kopi, teman-teman ku mengatakan bahwa caffein pada secangkir kopi bisa membuat kita gelisah dan tidak akan bisa tidur saat malam hari. Awalnya aku masih percaya akan mitos itu, namun yang aku ketahui bahwa kopi itu bukan racun. iseng-iseng googling dan mulai mencari tahu apa yang terkandung di dalam kopi, dan akupun menemukan semangat baru untuk mencobanya meskipun secara perlahan. semalaman membaca artikel kopi melalui internet dan menentukan kapan aku harus mencoba minum secangkir kopi. Ternyata kopi adalah satu minuman kebanggaan bagi penikmatnya, termasuk bagi aku sendiri.. setiap kafein yang terkandung dalam secangkir kopi adalah inspirasi tak terbatas untuk memainkan peranan menciptakan ide ide menarik tentunya.. hehee… karena pada umumnya manusia membutuhkan 150mg cafein /hari nya untuk energi beraktifitas yang stabil. Menurutku, kecanduan terhadap kopi adalah hebat, selain nikmat kopi juga bisa untuk kesehatan karena memiliki efek pada setiap tubuh…

Lihat pos aslinya 463 kata lagi

Iklan

Aku, di Balik Secangkir Kopi.

Bermula saat aku masih takut akan efek yang di timbulkan oleh secangkir kopi, teman-teman ku mengatakan bahwa caffein pada secangkir kopi bisa membuat kita gelisah dan tidak akan bisa tidur saat malam hari. Awalnya aku masih percaya akan mitos itu, namun yang aku ketahui bahwa kopi itu bukan racun. iseng-iseng googling dan mulai mencari tahu apa yang terkandung di dalam kopi, dan akupun menemukan semangat baru untuk mencobanya meskipun secara perlahan. semalaman membaca artikel kopi melalui internet dan menentukan kapan aku harus mencoba minum secangkir kopi. Ternyata kopi adalah satu minuman kebanggaan bagi penikmatnya, termasuk bagi aku sendiri.. setiap kafein yang terkandung dalam secangkir kopi adalah inspirasi tak terbatas untuk memainkan peranan menciptakan ide ide menarik tentunya.. hehee… karena pada umumnya manusia membutuhkan 150mg cafein /hari nya untuk energi beraktifitas yang stabil. Menurutku, kecanduan terhadap kopi adalah hebat, selain nikmat kopi juga bisa untuk kesehatan karena memiliki efek pada setiap tubuh manusia. Walau pun terkadang ada yang berasa secara langsung dan ada juga yang tidak, itu disebabkan sifat genetika yang dimiliki masing-masing individu terkait dengan kemampuan metabolisme tubuh dalam mencerna kafein dan hasil penelitian, Kandungan kafein yang terdapat di dalam secangkir kopi ternyata mampu menekan pertumbuhan sel kanker secara bertahap.. WOOWWWW..!!! mengagumkan. Tanpa sadar aku lebih kuat mengalahkan sugesti bahwa kopi lebih banyak buruk itu ternyata salah, hingga pada akhirnya belajar tentang kopi yang kebetulan aku dibesarkan di daerah Gayo, Aceh Tengah. Adalah salah satu penghasil kopi arabika dan robusta yang memiliki karakter rasa istimewa, bagaimana tidak, di setiap daerah gayo yang memiliki kebun kopi ada bermacam karakter cita rasa, mulai dari cita rasa asam buah-buahan, kacang, susu, paprika hingga coklat, after taste istimewa dengan kekuatan body yang menakjubkan. aku berani menyebut Gayo sebagai Seribu satu rasa kopi, bahkan ada cupper yang menyebut cita rasa kopi dunia ada di Gayo. Ini perlahan menjadi hobi yang sangat mengasyikkan bagiku, belajar cupping bersama cupper lokal (Q-Grader) dan cupper dunia dan  juga bagaimana aku bisa  memanggang kopi saat ini. Hingga sekarang secangkir kopi menjadi bagian hidup yang tidak dapat dipisahkan, semakin dalam aku belajar tentang kopi aku semakin merasa tidak tau apa-apa tentang kopi. Saat ini tahun 2015 Aceh sudah dikenal dengan 1000 Warung kopi lokal bergaya tradisional dan modern, beragam cara penyajian mulai dari cara yang klasik menyaring kopi hingga menggunakan mesin espresso seharga ratusan juta, menu yang disajikan oleh barista otodidak dan bersertifikat  juga banyak di cafe atau Warung kopi Aceh, salah satu yang paling diminati oleh penikmat kopi Aceh adalah menu “Sanger”, menu Sanger yang tidak ada sejarah tertulis katanya menu ini tercipta oleh permintaan anak kost tahun 90an yang ingin menyeruput kopi susu saat itu dan menyebut “sama-sama ngerti” hingga perlahan kopi tersebut menjadi singkatan Sanger, komposisi menu sanger itu awalnya hanya kopi saring jenis robusta dan susu kental manis, jika perbandingan segelas sanger adalah kopi (3) : susu (1). Beranjak waktu semakin modern sekarang segelas sanger sudah diracik dengan kopi jenis arabika, bahkan sudah diolah pada menu espresso yang ditambahkan sedikit susu kental manis lalu di steam sejenak hingga 3-5 detik, penikmat disini menyebut menu ini Sarabik atau Sanger Arabika.

Sebenarnya aku sendiri sangat suka kopi berjenis arabika dan robusta yang ada di Indonesia, kopi lokal Indonesia itu adalah sumber daya yang paling diburu oleh pembeli diluar negeri, pernah mencoba beberapa kopi yang diberikan oleh sahabat dari beberapa daerah seperti Jawa, Bali, Sulawesi, hingga wamena. kami bertukar kopi (semacam barter) hehe.. Bagi kami Kopi Indonesia adalah terbaik.  Lalu sepengetahuan saya, produsen terbaik kopi jenis robusta itu ada di Lampung, daerah yang sangat baik untuk perkebunan kopi karena di apit oleh kawasan hutan yang masih terjaga. Ini akan sangat menarik sekali jika saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi perkebunan kopi di Lampung bersama Nescafe. Twitter : @indieGem Facebook: Danurfan

Coffee Can Improve Energy Levels and Make You Smarter. …
Coffee Can Help You Burn Fat. …
The Caffeine Can Drastically Improve Physical Performance. …
There Are Essential Nutrients in Coffee. …
Coffee May Lower Your Risk of Type II Diabetes. …
Coffee May Protect You From Alzheimer’s Disease and Dementia.

View on Path

Wake up with coffee and cool down with a small glass. Whether morning or evening, Heart & Soul has you taken care of. – with Jeri at Kubra coffe, beurawe

View on Path

Aceh Peduli Lahan Basah 2015

Selain hutan dan laut, lahan basah juga merupakan suatu Ekosistem yang dilindungi di Indonesia. Untuk Provinsi Aceh, lahan basah terkonsentrasi pada hutan gambut di kawasan pantai barat Aceh yaitu Rawa Singkil di Aceh Singkil, Rawa Kluet di Aceh Selatan dan Rawa Tripa di Nagan Raya – Aceh Barat Daya.

Rawa Singkil dan Rawa Kluet menjadi bagian utuh dari Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Adapun Rawa Tripa masuk ke dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang menjadi bagian dari Kawasan Strategis Nasional (KSN).

Kegiatan “Aceh Peduli Lahan Basah 2015” yang dilaksakan oleh 50 Lembaga Swadaya Masyarakat dan Komunitas pada tanggal 15 Februari adalah langkah komitmen bersama untuk terus bekerja dalam melestarikan alam dan lingkungan di Provinsi Aceh.

10985588_10155846893420377_286912383793256996_n 10987697_716971795089711_4023657064555696740_n

Salah Siapa?

– Sebenarnya: “Aceh memiliki kearifan lokal yang sangat kuat dalam menjaga dan melestarikan hutan juga satwa” berawal dari budaya dan Islam yang kuat pada masyarakat Aceh dalam menjalankan kearifan lokal secara turun temurun.

– Hukum Adat di Aceh juga sangat kuat dalam menjaga hutannya, masuk hutan saja harus dengan ketentuan yang berdasarkan kearifan lokal. Hukum Syariah, Aceh seharusnya menjadi pedoman untuk daerah lain dalam menjaga dan melestarikan hutan dan satwa.

– Pantang sebenarnya bagi masyarakat Aceh untuk memotong pohon di hutan rimba terkecuali kebutuhan dan membawa pawang untuk berhikayat/ doa doa tertentu yang dibacakan sebelum menebang kayu/pohon terpilih. Kayu yang dipotong juga harus pada masanya, tidak boleh memotong kayu(pohon) yang kecil. Radius 500 meter dari sungai/danau, dilarang menebang pohon. kearifan lokal yang saat ini hilang perlahan di Aceh!.

– Masuk ke dalam hutan juga tidak boleh sembarangan hari, karena ada hari-hari tertentu tdk diperbolehkan. misal rabu habis & waktu jumat dan hari hari besar Agama lainnya. Kemudian batasan bagi wanita untuk masuk hutan di Aceh adalah tidak boleh disaat berhalangan/haid/menstruasi.

– Soal lintasan jalur hewan misalkan (Gajah) tidak boleh mendirikan gubuk/membuka lahan kebun. pantang jika melanggar kearifan lokal. Jika kearifan dilanggar, maka akan mendapat musibah. -Tidak salah lagi konflik satwa dan manusia sudah sering terjadi akibat melanggar.

– Saat ini berbanding terbalik dari pemahaman kearifan lokal yang ada, semua seperti masa lalu. hutan Aceh hancur, satwa dibunuh! Dulu orang Aceh menjaga hutan agar ketika musuh datang bisa menang jika berperang didalam hutan. banyak makanan dan obat2an. Sekarang hutan di tebang dan memberikan perusahaan luar untuk menghabiskan sumber daya alam yang ada hanya untuk kepentingan sekelompok! Lahan yang harusnya menjadi kawasan dilindungi kini habis karena nafsu membuka perkebunan perusahaan besar. kebun SAWIT salah satunya! Perusahaan tambang, perusahaan yang memberi modal ke perorangan untuk membuka tambang tradisional kecil dan berbahaya mencemari. Mafia mafia brengsek yang seperti hantu menjadi penadah Gading Gajah yang dibunuh dan Kulit harimau yang ditembak mati! – Biadab!

– Dulu sekali Sultan Iskandar Muda bisa hidup berdampingan dengan Gajah, menjadikan Gajah sebagai kendaraan perang di Aceh. Disaat itu pula Aceh menjadi penyuplai 50% terbesar dalam rempah-rempah (Lada misalkan). tidak ada masalah dengan Gajah yg tersebar.

– Sebutan Gajah Aceh ” Poe Meurah, Teungku rayeuk” sebutan mulia bagi hewan mamalia terbesar itu. sangat di hormati meski tidak dipuja. Sementara bagi Harimau dianggap sebagai “Aulia” yang berarti mahluk penjaga di dalam hutan, penunjuk jalan saat di peurabon (tersesat). Anggapan tadi adalah cerita dari kearifan lokal di Aceh, sekarang? Kaerifan lokal bisa di hapus dan bayar dengan uang.

– Tidak ada lagi jaga menjaga antara hewan dan manusia/ manusia dan hewan. Gajah menginjak mati atau manusia menembak mati gajah! Tahun 2014 adalah bencana bagi kepunahan Gajah di Aceh, lebih ganas dari pada tahun 2013 -Perburuan gading Gajah! Siapa yang akan kita salahkan untuk kasus perburuan gading Gajah atau Kulit harimau Aceh? Pemburu? Pemerintah korup? atau mafia yang seperti hantu?.

– “Janganlah kamu berbuat kekacauan di bumi”. Mereka berkata, “sesungguhnya kami hanya orang-orang yang mengadakan perbaikan”. (11) – Ingatlah, sesungguhnya mereka itu pembuat kekacauan tetapi mereka tidak menyadari. (12) –

Al-Quran, Surah Al-Baqarah Ayat 11-12.

(Fin) Semua kembali pada masanya, Allah SWT mengatur lalu Alam akan menyeimbangkan kembali lingkungannya. Amin. Al-Fatihah.. doa hutan Aceh.

Teungku Rayeuk ( Gajah Iskandar Muda ) dan Kisah sekarang

DI Aceh serangan gajah liar meningkat berkelindan dengan meluasnya perambahan hutan. Konflik manusia dengan gajah tak terhindarkan. Gajah diburu dan dimusuhi. Akibatnya, populasi gajah di Aceh menurun. Pada 2011, menurut Badan Konservasi Sumber Daya Aceh, hanya tersisa 540 ekor. Padahal, pada zaman Kesultanan Aceh abad ke-17, gajah memenuhi rimba dan menjadi simbol keagungan. Sebelum Kesultanan Aceh berdiri, kerajaan-kerajaan di utara Pulau Sumatra telah menjadikan gajah sebagai bagian tak terpisahkan dari kerajaan. Menurut M. Junus Djamil, seorang raja di Pidie memilih gajah sebagai tunganggannya. “Dalam tahun 500 masehi didapati kerajaan yang bernama Poli, yaitu Pidie sekarang, rakyatnya beragama Buddha, rajanya mengendarai gajah,” tulis Djamil dalam Gadjah Putih Iskandar Muda. Sultan Perlak pada 1146 juga gemar mengendarai gajah berhias emas, sebagaimana dikutip Djamil dari Kitab Rihlah Abu Ishak al-Makarany. Sementara Marcopolo menyebut Samudra Pasai sebagai kerajaan yang mempunyai banyak gajah, dan sebagian besar kepunyaan raja.

Dalam Rihlah Ibnu Batutah, Ibnu Batutah memberikan deskripsi lebih lengkap mengenai gajah Samudra Pasai pada 1345. Selain dimiliki Raja, gajah-gajah itu juga menjadi bagian armada perang kerajaan. Jumlahnya 300 gajah. Meski untuk berperang, gajah-gajah itu tetap dihias. Menurutnya, kekuatan dan kemegahan armada Gajah Samudra Pasai hanya bisa disaingi oleh Kerajaan Delhi (India). Ketika Kesultanan Aceh berdiri pada paruh pertama abad ke-16, gajah tetap menjadi hewan andalan, selain kuda. Sultan-sultan Aceh masa itu tersohor sebagai penunggang gajah yang mahir.

Kecakapan menunggang gajah dianggap salah satu simbol keagungan sultan. Gajah-gajah pun dirawat dengan baik. Gajah-gajah liar di pedalaman diburu bukan untuk diambil gadingnya, melainkan untuk dijinakkan. Setelah jinak, gajah yang dipandang terbaik dan terbesar akan dijadikan gajah sultan. Sisanya untuk armada perang Aceh. Gajah-gajah perang itu dihias seindah mungkin dengan emas dan permata.

Suatu pemandangan yang dapat ditemukan di India. Kebanggaan Kesultanan Aceh terhadap gajah berlanjut hingga abad ke-17. Iskandar Muda, calon sultan, akrab dengan gajah sejak kecil. Indra Jaya, seekor anak gajah, menjadi teman bermain Iskandar Muda kecil. Kakeknya, Sultan Alau’ddin Riayat Syah, memberikan gajah itu saat Iskandar berumur 5 tahun. Iskandar senang menerimanya. Dia menghabiskan sebagian besar waktu bermainnya dengan anak gajah itu. Menginjak usia 7 tahun, dia mulai berburu gajah liar yang berada dalam hutan. Saat beranjak dewasa, Iskandar Muda telah mahir menunggangi gajah. Mengutip Hikayat Aceh, Anthony Reid dalam “Elephants and Water in The Feasting of Seventeenth Century Aceh,” dimuat dalam An Indonesian Frontier, menyebut sultan muda itu berlatih menunggang gajah tiap Senin dan Kamis. Sultan muda itu meneruskan tradisi kemahiran sultan Aceh dalam menunggangi gajah. Tamu-tamu asing Kesultanan Aceh terpukau dengan gajah-gajah di sana. Sebaliknya, Aceh membanggakan gajah-gajahnya pada tamu-tamu asing. Untuk menyambut tamu asing, gajah dipersiapkan sebaik mungkin, baik perangai, kesehatan maupun perhiasannya. John Davies, navigator Inggris, mengungkapkan pengalamannya mengunjungi istana sultan pada 1599. “Saya berkendara ke istananya dengan seekor gajah,” tulis Davies dalam “Kunjungan Pertama Belanda Berakhir Buruk, 1599,” dimuat dalam Sumatera Tempo Doeloe. Dia juga menyebut gajah dapat digunakan sebagai alat eksekusi hukuman mati. Gajah bisa merobek badan orang hingga pecah berkeping-keping.

Catatan Francois Martin, pedagang Prancis, pada 1602 menguatkan cerita Davies. Hukuman mati dengan gajah dikenakan pada pezina dan pembunuh. Meski gajah sempat menjadi alat eksekusi, fungsi utama gajah sebagai simbol kebesaran kesultanan Aceh tak terbantahkan. Augustin de Beaulieu, pedagang Prancis, menyaksikan bagaimana Aceh merupakan panggung teater besar para gajah pada 1621. Dalam catatannya, “Kekejaman Iskandar Muda”, dimuat dalam Sumatera Tempo Doeloe, dia menyebut Aceh memiliki 900 ekor gajah. Karena melimpahnya armada gajah, Aceh tak memerlukan benteng kota. “Gajah-gajah tempurnyalah yang merupakan benteng kota sesungguhnya,” tulis Denys Lombard dalam Kerajaan Aceh. Gajah-gajah itu dilatih berperang sehingga tak takut ketika suara senapan yang memekakkan berbunyi disamping telinga besarnya. Sultan memberikan gajah-gajah itu nama sedangkan rakyat memberi penghormatan kepada gajah-gajah yang sultan gunakan. Ketika parade, gajah-gajah itu diiringi bunyi-bunyian yang membahana dari alat-alat musik seperti terompet, tamborin, dan simbal.

Catatan lain mengenai gajah Aceh berasal dari Peter Mundy, pelancong Inggris. Meski hanya mengunjungi Aceh selama 10 hari, dia melihat upacara besar yang menyertakan banyak gajah pada 1637. Dia mendeskripsikan dengan sangat jelas upacara yang digelar saat perayaan Idul Adha. Upacara itu dihadiri khalayak termasuk orang asing. Sultan mengundang semua rakyat hadir, dari jelata hingga bangsawan. Dalam upacara itu, 30 gajah berhias terbagi dalam beberapa baris. Ada empat gajah tiap barisnya. Sebagian gajah ditutupi kain sutra sehingga hanya terlihat kaki, telinga, mata, dan belalai mereka. Gajah raja terlihat mencolok. Dengan hiasan kain mewah yang menutupi hampir seluruh tubuh dan menara setinggi satu meter di punggungnya, gajah itu berada paling belakang.

Menurut Takeshi Ito dalam The World of The Adat Aceh, tesis pada Australian National University, “dalam masa damai, gajah menjadi bagian integral dalam prosesi itu sebagaimana tertuang dalam kitab Adat Aceh.” Ito menambahkan Aceh tak hanya mengoleksi gajah tapi juga mengeskpor atau membarternya dengan sejumlah kuda atau hewan lain ke beberapa wilayah seperti Srilanka. Pada masa Sultanah Safiatuddin (1641-1675), kepemilikan gajah tak terbatas lagi pada sultan. Orangkaya boleh memilikinya. Seiring meredupnya Kesultanan Aceh, gajah tak lagi menempati posisi penting dalam upacara keagamaan atau armada perang. Memasuki abad ke-20, nasibnya semakin naas; hanya menjadi barang buruan dan dagangan. Bahkan menjadi musuh warga.[] sumber : historia.com